BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA

Ayat-ayat yang berkaitan dengan perintah berbakti kepada kedua orang tua dan larangan durhaka kepada keduanya
Ayat ke-1
       •  •                 
“sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”(QS. Al-Israa’: 23)
Ayat ke-2
            
“dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS. Al-Israa’: 24)
Ayat ke-3
     •            
“dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.(QS. Luqman: 14)
Ayat ke-4
                       
“dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al-Ankabut:8)
Ayat ke-5
   •           •  •                                 
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila Dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri”.(QS. Al-Ahqaf: 15)
Ayat ke-6
                ••     •        
“dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling”.(QS. Al-Baqarah: 83)
Hadits-hadits yang berkaitan dengan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua dan larangan durhaka kepada keduanya
Hadits ke-1
حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ الْوَلِيدُ بْنُ عَيْزَارٍ أَخْبَرَنِي قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَمْرٍو الشَّيْبَانِيَّ يَقُولُ أَخْبَرَنَا صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلَى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata; Al Walid bin ‘Aizar telah mengabarkan kepadaku dia berkata; saya mendengar Abu ‘Amru Asy Syaibani berkata; telah mengabarkan kepada kami pemilik rumah ini, sambil menunjuk kerumah Abdullah dia berkata; saya bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Amalan apakah yang paling dicintai Allah? Beliau bersabda: “Shalat tepat pada waktunya.” Dia bertanya lagi; “Kemudian apa?” beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Dia bertanya; “Kemudian apa lagi?” beliau menjawab: “Berjuang di jalan Allah.” Abu ‘Amru berkata; “Dia (Abdullah) telah menceritakan kepadaku semuanya, sekiranya aku menambahkan niscaya dia pun akan menambahkan (amalan) tersebut kepadaku.” [ HR. Bukhari-Muslim]
Hadits ke-2
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ شُبْرُمَةَ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ وَقَالَ ابْنُ شُبْرُمَةَ وَيَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ مِثْلَهُ
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Jarir dari ‘Umarah bin Al Qa’qa’ bin Syubrumah dari Abu Zur’ah dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dia berkata; “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “kemudian siapa lagi?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” dia menjawab: “Kemudian ayahmu.” Ibnu Syubrumah dan Yahya bin Ayyub berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah hadits seperti di atas.” [HR. Bukhari-Muslim]
Hadits ke-3
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ وَشُعْبَةَ قَالَا حَدَّثَنَا حَبِيبٌ قَالَ )ح .(وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ حَبِيبٍ عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُجَاهِدُ؟ قَالَ: “لَكَ أَبَوَانِ؟” قَالَ نَعَمْ قَالَ: “فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ”
Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan dan Syu’bah keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Habib dia berkata. Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Habib dari Abu Al ‘Abbas dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Saya hendak ikut berjihad.” Beliau lalu bersabda: “Apakah kamu masih memiliki kedua orang tua?” dia menjawab; “Ya, masih.” Beliau bersabda: “Kepada keduanya lah kamu berjihad.” [HR. Bukhari-Muslim]
Hadits ke-4
وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا-, عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ ) أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ
“Dari Abdullah Ibnu Amar al-‘Ash Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Keridloan Allah tergantung kepada keridloan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” [Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim].
Hadits ke-5
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Ayahnya dari Humaid bin Abdurrahman dari Abdullah bin ‘Amru radliallahu ‘anhuma dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya termasuk dari dosa besar adalah seseorang melaknat kedua orang tuanya sendiri, ” beliau ditanya; “Kenapa hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Seseorang mencela (melaknat) ayah orang lain, kemudian orang tersebut membalas mencela ayah dan ibu orang yang pertama.” [HR. Bukhari no. 5973]
Hadits ke-6
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلْ الْجَنَّةَ
Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, “Rasulullah SAW telah bersabda, celaka ia! Celaka ia! Celaka ia.’ Seseorang bertanya kepada Rasulullah, “Siapa ia yang celaka ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang mempunyai kedua orang tua yang masih hidup dalam keadaan tua, baik salah satu ataupun keduanya, tetapi orang tersebut tidak dapat masuk surga.” [HR. Muslim no. 2551]

Posted in Uncategorized | Leave a comment

kisah Harut dan Marut dua malaikat yang diturunkan dibumi

Harut dan Marut (Bahasa Arab: هاروت وماروت, transliterasi: Hārūt dan Mārūt) adalah dua malaikat yang diutus oleh Allah ke negeriBabilonia. Nama mereka disebutkan di dalam Al Qur’an pada sura t Al Baqarah ayat 102, Allah ta’ala berfirman :

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaithan-syaithan pada masa kerajaan Sulaiman. (Dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaithan-syaithanlah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”.
Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak bisa memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual diri dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (Al Baqarah : 102)
Bagaimana mungkin malaikat Allah dibolehkan mengajarkan manusia sesuatu yang bisa menceraikan seorang suami dengan pasangannya ?.
maka jawaban saya sebagai berikut :
Sesungguhnya Allah telah memberikatahukan kepada hamba-Nya mengenai segala hal yang Ia perintahkan dan segala hal yang Ia larang. Sihir termasuk suatu pekerjaan yang terlarang bagi para hamba-Nya. Karena itu bukan hal yang ganjil jika Allah mengajarkan pada dua malaikat- Harut dan Marut- ilmu sihir, dan mereka mengajarkannya kembali kepada manusia. Hal itu dimaksudkan sebagai ujian bagi hamba-hamba-Nya, agar bisa diketahui siapa orang yang beriman dan siapa yang kufur. Orang yang beriman adalah orang yang tidak belajar sihir dari kedua malaikat itu, sedangakan orang yang kfur adalah orang yang mempelajari sihir dan mempraktekkannya, untuk itu mereka mendapat penghinaan dan celaan dari Allah Subhanahu wa Ta’aala.( Tafsir Ath-Tabari, II/426 ).
Siapa yang dimaksud dengan Harut dan Marut dalam ayat di atas? Apakah keduanya memang malaikat?
Asy Syaikh Shalih Al Fauzan hafidhahullah pernah ditanya :
Apakah benar riwayat yang menyebutkan bahwa Harut dan Marut adalah dua malaikat, ataukah itu hanya kisah Israiliyyat?
Jawaban :
Allah Jalla wa ‘Alla berfirman :
وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ
“Dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat…” (Al Baqarah : 102)
Ini bukanlah termasuk Israiliyyat, ini dari Al Qur’an. Mereka adalah dua malaikat yang diturunkan oleh Allah untuk menguji manusia;
إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ
“Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” (Al Baqarah : 102)
Keduanya adalah malaikat yang diturunkan oleh Allah untuk menguji manusia dalam perkara ini.
Kisah Harut dan Marut
Hadits palsu, dan berita isra’iliyyat banyak “menghiasi” kitab-kitab tafsir. Ambil saja sebagai contoh, hadits tentang Harut, dan Marut. Oleh karenanya, saat membaca sebagian kitab-kitab tafsir, seorang harus pandai memilah, dan memilih hadits, jangan sampai memilih hadits palsu, atau berita Isra’iliyyat yang diadopsi dari Taurat, dan Injil, atau dari ucapan para pendeta dan mantan pendeta yang masuk ke dalam Islam, seperti hadits berikut:
“Sesungguhnya Adam ketika ia diturunkan oleh Allah ke bumi, para malaikat berkata, “Wahai Robb-ku, apakah Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”
Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Mereka berkata, “Wahai Rabb kami, kami lebih taat kepadamu dari pada bani adam”.
Allah berkata kepada para malaikat, “Datangkan kepadaku dua malaikat dari malaikat-malaikat yang ada sehingga keduanya diturunkan ke bumi dan kita lihat bagaimana keduanya berbuat?”.
Para malaikat berkata, “Wahai Rabb kami, turunkanlah Harut dan Marut”. Kemudian keduanya pun diturunkan ke bumi, dan dinampakkanlah hiasan dunia kepada mereka berdua dalam bentuk seorang wanita yang paling cantik. Wanita itu pun datang kepada mereka berdua dan kedua malaikat itu meminta diri wanita tersebut.
Sang wanita berkata, “Tidak !! Demi Allah, sampai kalian berdua mengucapkan kalimat syirik ini. Keduanya berkata, “Demi Allah, kami tidak akan berbuat syirik kepada Allah. Wanita itu pun meninggalkan mereka berdua. Kemudian wanita itu kembali dengan membawa seorang bayi, maka kedua malaikat itu kembali meminta diri sang wanita.
Sang wanita berkata, “Tidak!! Demi Allah, sampai kalian membunuh bayi ini. Kedua malaikat itu berkata, “Demi Allah, kami tidak akan membunuhnya selamanya”. Maka sang wanita pergi. Kemudian ia kembali lagi membawa segelas khamer. Kedua malaikat kembali meminta diri sang wanita.
Maka sang wanita berkata, “Tidak!! Demi Allah, sampai kalian minum khamer ini”. Akhirnya, keduanya pun meminum khamer tersebut, lalu keduanya mabuk sehingga keduanya menyetubuhi sang wanita itu, dan membunuh bayi. Tatkala keduanya sadar, sang wanita berkata,
“Demi Allah, tidak satu pun yang kalian tinggalkan dari apa yang kalian abaikan di hadapanku, kecuali telah kalian lakukan ketika kalian mabuk. Keduanya pun diperintahkan untuk memilih siksa dunia atau siksa akhirat. Maka keduanya memilih siksa dunia”.
[HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/134/no. 6178), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (6186), Ibnu Abid Dunya dalam Al-Uqubat (222), Abd bin Humaid dalam Al-Muntakhob (787), dan lainnya]
Hadits adalah hadits yang batil, bukan sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, karena dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Zuhair bin Muhammad At-Tamimiy Al-Marwaziy; ia tsiqoh, tapi biasa meriwayatkan hadits yang munkar, seperti hadits Harut, dan Marut ini. Selain itu, gurunya yang bernama Musa bin Jubair; ia adalah seorang yang mastur (tak dikenal kedudukannya). Intinya, hadits ini batil baik sanad, maupun redaksinya, dan hadits ini adalah berita isra’iliyyat yang terambil dari Ka’ab Al-Ahbar sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Adh-Dho’ifah (170).
Sumber : Rubrik Hadits Lemah Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 75 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel.
http://www.salafy.or.id/sihir-termasuk-perbuatan-setan/
http://media-sunni.blogspot.com/2012/04/hakikat-harut-dan-marut.html

Posted in Uncategorized | Leave a comment

عقيدة أهل السنّة والجماعة في الصحابة

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله ما يشاء ويختار ، والصلاة والسلام الأتمان الأكملان على رسوله المصطفى المختار، وعلى آله وصحبه الخيار الأبرار. أما بعد :
فإنّ الله بعث رسوله بالهدى ودين الحق؛ فأنزل عليه أشرف كتبه واصطفى لصحبته خيار أمته، فقاموا بدين الله خير قيامٍ نصرةً لنبيهم وجهاداً معه، حتى توفاه الله وهو راضٍ عنهم، ثم جدوا في نشر من بعده حتى لقوا الله على خير حال وأحسن مآل.
قال ابن مسعود رضي الله عنه : (( إنّ الله اطلع على قلوب العباد فاختار محمداً فبعثه برسالته، وانتجبه بعلمه، ثم نظر في قلوب الناس بعدُ؛ فاختار له أصحاباً فجعله أنصار دينه ووزراء نبيه)).
تعريف الصحابة
لغة ؛ مشتق من الصحبة، وليس مشتقّاً من قدر خاص منها، بل هو جار على كل من صحب غيره قليلا أو كثيرا.
أما اصطلاحاً، كما ذكر ابن الحجر في مقدّمة كتابه الإصابة: ((وأصحُّ ما وقفتُ عليه من ذلك أنّ الصحابيّ: من لقي النبي صلى الله عليه وسلّم مؤمناً به، ومات على إسلامه. فيدخلُ مَن طالت مجالستُه أو قصرت، ومن روى عنه أو لم يروِ، ومن غزا معه أو لم يغزُ، ومن رآه رأية ولو لم يجالسه، ومن لم يره لعارضٍ كالأعمى. ويخرج بقَيد (الإيمان) مَن لقيه كافراً ولو أسلم بعد ذلك إذا لم يجتمع معه مرة أخرى)). Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tokoh Pendidikan Perempuan Islam Rahmah el-Yunusiah

Pendahuluan
Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga selalu tercurah pada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, serta keluarga, sahabat, tabi’in dan orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.
Masyarakat bisa baik melalui rumah tangga, sedang rumah tangga adalah tiang masyarakat dan masyarakat adalah tiang Negara. Wanita adalah tiang rumah tangga. Selain Adam alaihis-salam, setiap manusia dilahirkan oleh wanita. oleh sebab itu diharapkan melalui pendidikan setiap wanita menjadi ibu yang baik dalam rumah tangga dan masyarakatnya. Maksud ini bisa dicapai bila kaum wanita mendapat pendidikan khusus dengan system pendidikan tersendiri, karena hukum agama sangat erat sekali sangkut-pautnya dengan seluk-beluk kewanitaan, dan begitu banyak masalah wanita yang tidak mungkin dapat dibicarakan secara terbuka maka dari sinilah ia berkesimpulan bahwa perlu ada perguruan khusus untuk anak-anak wanita.
A. Biografi Rahmah El-Yunusiah
Rahmah el-Yunusiyah, H. Dilahirkan pada tanggal 26 oktober 1900 (1 rajab 1318 H) dipadang panjang, sumatra barat. Ia putri bungsu dari keluarga Syekh M. Yunus dengan Rafi’ah. Ia dilahirkan dari keluarga yang berlatar belakang pendidikan agama yang kuat. Bahkan, bukan saja berpendidikan, keluarganya adalah tokoh-tokoh pendidikan dan masyarakat. Ayahnya, Syekh M. Yunus adalah seorang ulama dan pernah menjabat qadi di Pandai Sikat, Padang Panjang. Sedangkan kakeknya, Imanuddin, seorang ahli ilmu falak dan pemimpin tarekat Naqsabandiyah.
Rahmah El-Yunusiah mempunyai lima orang saudara. Kakaknya yang tertua bernama Zaenuddin Labai El-Yunusi (1890-1924), seorang ulama muda, pendiri Diniyah School (1915) untuk putra dan putri yang memakai system dan pelajaran modern. Dialah yang membuka mata pandangan Rahmah El-Yunusiah. Walaupun ayahnya seorang ulama, Rahmah tidak banyak mendapat pendidikan dari ayahnya karena sewaktu ia masih kanak-kanak ayahnya meninggal dunia. Ia dibesarkan oleh ibu dan kakak-kakaknya yang telah berumah tangga.
Dalam usia 16 tahun, Rahmah dinikahkan dengan seorang ulama muda berpikiran maju bernama H. Baharuddin Lathif. Setelah perkawinannya berlangsung selama enam tahun, atas kehendak kedua belah pihak, terjadilah perceraian tanpa memperoleh anak. Sejak itu ia hanya mencurahkan perhatian dan tenaganya dalam berbagai kegiatan masyarakat.
Ia bukan saja berjuang dan menjadi tokoh pendidikan wanita, tetapi juga menjadi tokoh perjuangan wanita pada masa revolusi fisik. Misalnya, pengorganisasian TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang para anggotanya diambil dari laskar Gygun. Selain itu, Rahmah pun sempat mengorgaisasi pemuda guna menyusun kekuatan gerilnya. Akhirnya, tokoh wanita ini wafat pada 26 Februari 1969 (9 zulhijjah 1388 H) di Padang Panjang.
B. Pendidikan Rahmah El-Yunusiah
Walaupun ayahnya seorang ulama, Rahmah tidak banyak mendapat pendidikan dari ayahnya karena sewaktu ia masih kanak-kanak ayahnya meninggal dunia. Rahmah bersekolah diperguruan Diniyah School pimpinan kakaknya, Zainuddin Labay. Disamping itu, pada sore hari, ia belajar kepada beberapa ulama terkemuka di Padang Panjang. Karena dibesarkan pada keluarga yang banyak berkecimpung dalam bidang pendidikan, sejak semula ia sudah menaruh perhatian terhadap bidang yang sama. Ia sangat kagum pada lembaga pendidikan yang dikelola kakaknya dan, sekaligus tempat belajarnya, Diniyah School.
Disamping pendidikan agama yang pernah diperolehnya, Rahmah juga belajar ilmu kebidanan, ilmu kesehatan dan P3K (Pertolongn Pertama Pada Kecelakaan), dari Dr, Sofyan Rasyad, Dr. Tazar di Kayu Taman, Dr. A. Shaleh di Bukit Tinggi, dan Dr. Arifin di Payakumbuh.

C. Lembaga Pendidikan (Diniyyah Putri) dan perkembangannya
Keyakinan Rahmah akan peranan pendidikan sebagai salah satu jalan yang tepat untuk mengangkat drajat kaum perempuan telah dimilikinya sejak ia masih remaja. Oleh karena itu, Rahmah berkeinginan untuk mendirikan perguruan agama khusus untuk perempuan
Pada hari kamis tanggal 1 November 1923 diresmikan sekolah itu dengan nama AL-Madrasah AL-Diniyyah Li Al-Banat. Untuk menarik perhatian masyarakat terutama kaum ibu, intelektual, dan golongan yang sangat kuat memegang tradisi lama, perguruan yang baru didirikan ini dinamakan pula dengan Diniyyah School Poetri. Ketiga macam yang tidak sama ini, kata Aminuddin Rasyad melambangkan adanya unsur agama, pengetahuan, dan kepribadian bangsa karena diambil dari istilah agama, bahasa Belanda dan kata Indonesia.
Pada permulaan berdirinya perguruan ini, murid-muridnya yang terdaftar adalah 71 orang dan sebagian besar terdiri dari kaum wanita yang sudah berkeluarga. Cara belajar sangat sederhana. Perguruan ini mengambil tempat disalah satu ruangan Masjid Pasar Usang, murid-murid duduk dilantai sambil mengelilingi guru menghadap sebuah meja kecil. Kurikulum yang dipergunakan juga sangat sederhana, yaitu pengetahuan agama dan bahasa arab ditambah dengan pengatahuan umum yang praktis dan menjahit. Guru-gurunya ada empat; Rahmah merangkap sebagai pemimpin, Darwisah, Nasisah, dan Djawena Basyir.
Pada tahun 1924 perguruan ini dipindahkan ketempat yang baru, dengan menyewa rumah bertingkat dua yang berlokasi di Pasar Usang Padang Panjang. Sejak itu perguruan ini dilengkapi dengan bangku, meja, dan papan tulis. Anak-anak yang belum berumah tangga diharuskan tinggal di asramayang disediakan pada tingkat dua.
Karena perhatian masyarakat bertambah besar terhadap perguruan ini dengan banyaknya murid-murid yang datang dari luar Kota Padang Panjang, pada awal tahun 1926 dibangun sebuah gedung yang lengkap dengan asramanya. Akan tetapi, sebelum gedung itu berumur satu tahun, pada tanggal 28 Januari 1926, gempa bumi menimpah Kota Padang Panjang sehingga gedung yang baru itu ikut hancur. Setelah 45 hari gempa, ia bersam majelis guru dan dibantu oleh murid-murid thawalib (100% putra) kembali gotong-royong mendirikan beberapa rumah bambu dengan atap rumbia dan berlantaikan tanah. Rumah bambu ini dijadikan rumah darurat untuk memulai lagi kegiatan perguruannya.
Pada tahun 1927 Rahmah pergi ke Sumatera untuk mengumpulkan dana guna membangun sebuah gedung permanen yang baru. Gedung ini selesai pada tahun berikutnya. Sesuai dengan tingkat kebutuhan, perguruan ini terus-menerus mengalami penyempurnaan, baik fisik, jenis lembaga pendidikan, maupun kurikulum.
D. Kurikulum dan Sistem Pendidikan Diniyyah Putri
Sejak berdirinya, Perguruan Diniyyah Putri selalu mempertahankan system pendidikan tritunggal, yaitu kerja sama yang erat antara lingkungan sekolah, asrama, dan rumah tangga atau masyarakat.
Dengan system pendidikan yang dianut oleh perguruan ini terjalinlah kerja sama yang erat antara ketiga macam system lingkungan untuk mencapai tujuan sesuai dengan yang telah digariskan. Ini berarti bahwa pendidikan yang diberikan secara formal di pagi hari di praktikkan di asrama secara informal dibawah asuhandan bimbingan ibu asrama dan guru-guru pengasuh yang seluruhnya adalah guru-guru wanita. kemudian, semua materi pendidikan yang pernah diterima oleh pelajar selama mereka berada di perguruan ini di praktikkan di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitarnya dibawah pengasuhan orang tuanya.
Lembaga pendidikan di lingkungan Perguruan Diniyyah Putri terdiri dari empat jenis, yaitu:
a. Perguruan Diniyyah Putri Menengah Pertama (DMP) bagian B. Lama pendidikan 4 tahun. Perguruan ini menampung murid-murid tamatan Sekolah Dasar (SD) atau sederajat.
b. Perguruan Diniyyah Putri Menengah Pertama (DMP) bagian C. Lama pendidikan 2 tahun. Dan menerima murid-murid tamatan SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) atau sederajat
c. Kulliyah Al-Muallimat al-Islamiyah (KMI). Lama pendidikan 3 tahun dan menampung murid murid-murid tamatan DMP. Bagian B dan C atau dari Perguruan Agama Tinggi Menengah atau Tsanawiyah.
d. Fakultas Dirosah Islamiyah Perguruan Tinggi Diniyah Putri. Lama pendidikannya 3 tahun untuk mendapatkan ijazah tingkat Sarjana Muda setingkat dengan Fakultas Ushuluddin lain. Status fakultas diakui dengan SK. Mentri Agama No.117 tahun 1969.
E. Tantangan Rahmah dalam Mewujudkan Cita-Citanya
Untuk mewujudkan cita-citanya dalam bidang pendidikan banyak sekali tantangan yang dihadapi Rahmah pada waktu sekolah itu didirikan. Masyarakat yang masih berpegang teguh dengan tradisi lama selalu melancarkan kritik dan cemoohan terhadapnya. Kata-kata seperti “mana pula orang perempuan akan mengajar, akan jadi guru, mengepit-ngepit buku, membuang-buang waktu…akhirnya akan ke dapur juga, lebih baik dari kini ke dapur”, sering dilontarkan kepadanya, tetapi berkat keyakinan yang mantap dan berpegang teguh kepada janji Allah dalam Al-Quran surat Muhammad ayat 7.
         
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
Ia melangkah maju, menghadapi segala tantangan dan rintangan. Ayat diatas selalu ia jadikan pegangan, baik pada masa penjajahan Belanda, Jepang, maupun masa kemerdekaan.
F. Perhatian Luar Negri Terhadap Pola Pendidikan Diniyah Putri
Perhatian luar negri terhadap pola pendidikan Diniyyah Putri, selain dari Malaysia dan Singapura juga Negara-negara Timur Tengah. Pada tahun 1955, Rektor Al-Azhar University, Syekh Abdur Rahman Taj datang mengunjungi Diniyyah Putrid an menyatakan kekagumannya, kemudian Al-Azhar mengundang Rahmah El-Yunusiah untuk berkunjung ke perguruan tinggi tersebut pada tahun 1956. Dalam kunjungan itu, Rahmah mendapat gelar kehormatan agama yang tertinggi yang diberikan dalam rapat senat guru besar Al-Azhar,dengan nama “Syaikhah”. Semenjak itulah, hubungan Diniyyah Putri semakin bertambah kokoh dengan berbagai perguruan tinggi yang ada di Timur Tengah.
G. Kesimpulan
Demikianlah peranan Rahmah El-Yunusiah dengan lembaga pendidikan Diniyyah Putri-nya. Dari uraian tersebut diatas, kita dapat menangkap pikiran-pikiran yang mendasari perjuangannya. Dia memulai dengan beberapa murid wanita dan menjelang akhir hayatnya, berhasul mendirikan pergruan tinggi wanita Islam, sekaligus sebagai sombol wanita Islam diantara para pejuang wanita yang berjuang dalam dunia pendidikan di tanah air kita.
Daftar Pustaka
Rukiati Enung K Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, cet.1 (bandug: pustaka setia, 2006)
IAIN Syarif Hidayatullah Ensklopedi Islam Indonesia,(Penerbit: Jakarta Djambatan)
Ajisman dkk Rahmah El-Yunusiah Tokoh Pembaharu Pendidikan dan Aktivitas Perempuan di Sumatera Barat. pdf

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KEMAKSIATAN DAN DAMPAK NEGATIFNYA TERHADAP INDIVIDU DAN MASYARAKAT

Kemaksiatan Dan Dampak Negatifnya Terhadap Individu Dan Masyarakat
Jumat, 11 Maret 2011 09:08:08 WIB

KEMAKSIATAN DAN DAMPAK NEGATIFNYA TERHADAP INDIVIDU DAN MASYARAKAT

Oleh :
Syaikh Raid bin Shabri Abu ‘Ulfah

Perbuatan dosa dan maksiat memberi pengaruh yang besar serta efek yang sangat berbahaya bagi masyarakat dan individu. Allah telah menerangkan dengan sejelas-jelasnya pengaruh perbuatan ini sejak perbuatan maksiat dilakukan pertama kali.

Marilah kita mengambil beberapa nash Al Qur’an dan hadits, serta atsar (riwayat) ulama’ Salaf yang menyebutkan pengaruh-pengaruh ini. Allah berfirman,

وَعَصَى ءَادَمُ رَبَّهُ فَغَوَى . ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى . قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى . وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى . قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا . قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ ءَايَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى . وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِن بِئَايَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ اْلأَخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى

Dan Adam pun mendurhakai Rabb-nya, maka ia sesat. Kemudian Rabb-nya (Adam) memilihnya, maka Dia menerima taubatnya dan memberi Adam petunjuk. Allah berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dariKu, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, ia tidak akan seat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Berkatalah ia:”Ya, Rabb-ku, mengapa Engkau menghimpun aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang bisa melihat”. Allah berfirman:”Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari inipun kamu dilupakan”. Dan demikanlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya terhadap ayat-ayat Rabb-nya. Dan sesungguhnya adzab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal [Thaha:121-127].

Ayat ini menyebutkan beberapa efek negatif yang ditimbulkan karena perbuatan maksiat. Allah menjelaskan dalam ayat ini, bahwa akibat (yang ditimbulkan karena) perbuatan maksiat adalah ghay (kesesatan) yang merupakan sebuah kerusakan. Seakan-akan Allah berfirman “Barangsiapa mendurhakai Allah, maka Allah akan merusak kehidupannya di dunia.” Makna seperti ini juga disebutkan dalam ayat-ayat berikut. FirmanNya:

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى

lalu barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. [Thaha : 123].

Konsekwensinya, orang yang tidak mengikuti petunjuk Allah, maka ia akan sesat dan sengsara. Dan ayat-ayat berikut ini menjelaskan lebih gamblang.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. [Thaha:124].

Maksudnya, dia akan mendapatkan kesengsaraan dan kesusahan. Dalam tafsirnya (3/164), Ibnu Katsir berkata: “Di dunia, dia tidak akan mendapatkan ketenangan dan ketenteraman. Hatinya gelisah yang diakibatkan kesesatannya. Meskipun dhahirnya nampak begitu enak, bisa mengenakan pakaian yang ia kehendaki, bisa mengkonsumsi jenis makanan apa saja yang ia inginkan, dan bisa tinggal dimana saja yang ia kehendaki; selama ia belum sampai kepada keyakinan dan petunjuk, maka hatinya akan senantiasa gelisah, bingung, ragu dan masih terus saja ragu. Inilah bagian dari kehidupan yang sempit”.

Alangkah seringnya kita melihat dan mendengar berita tentang orang yang memiliki harta yang sangat banyak, mati bunuh diri dengan terjun dari tempat-tempat yang tinggi (atau gedung-gedung). Apa yang menyebabkan mereka melakukan itu? (Sudah puaskah mereka menikmati harta kekayaannya, Pent)? Pasti, penyebabnya adalah sempitnya kehidupan yang menderanya akibat berpaling dari dzikrullah. Kalau orang-orang yang berpaling dari dzikrullah itu tidak bertaubat, maka akibatnya mereka akan dikumpulkan pada hari kiamat di padang Mahsyar dalam keadaan buta. Allah berfirman.

وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي اْلأَخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلاً

Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). [Al Isra:72].

Dan dia akan dibiarkan di dalam neraka. Allah berfirman.

قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا . قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ ءَايَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى

Berkatalah ia: “Ya, Rabb-ku. Mengapa Engkau mengumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang dapat melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu(pula) pada hari inipun kamu dilupakan.” [Thaha :125- 126].

Kata “dilupakan” dalam ayat di atas, maksudnya adalah ia dibiarkan di dalam neraka sebagai balasan yang setimpal. Jadi balasan itu sejenis dengan perbuatannya. (Dia melupakan syari’at Allah di dunia, maka Allah melupakan dia di dalam nerakaNya, Pent).

Perhatikanlah pula pengaruh dan efek dari perbuatan maksiat dalam firman Allah.

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَن نَّصْبِرَ عَلَى طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنبِتُ اْلأَرْضُ مِن بَقْلِهَا وَ قِثَّآئِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَآءُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِئَايَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

Dan (ingatlah), ketika kamu (Bani Israil) berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Rabb-mu, agar Dia mengeluarkan bagi kami, apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pastilah kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpakan kenistaan dan kehinaan kepada mereka, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. [Al Baqarah:61].

Ayat ini memuat beberapa akibat (yang ditimbulkan karena perbuatan) maksiat. Diantaranya:

Pertama : Allah telah menetapkan kehidupan yang rendah buat mereka, karena mereka menghendaki hal itu. Maka terwujudlah yang mereka minta. Mereka menukar madu dan salwa (sejenis burung puyuh, Pent) (ini merupakan sesuatu yang lebih berharga) dengan sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merah (sesuatu yang lebih rendah).

Kedua : Ditimpakan kepada mereka kehinaan. Bukan itu saja, bahkan kepada mereka ditimpakan maskanah. Yaitu kefakiran dan kehinaan. Allah telah menetapkan hal itu bagi mereka.

Ketiga : Mereka akan kembali kepada Allah dengan menanggung kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Renungkanlah firman Allah:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah (Rasulullah) takut akan ditimpa musibah atau ditimpa adzab yang pedih. [An Nur:63].

Maksud menyelisihi perintah Rasulullah, adalah menyeleweng dari perintahnya. Akibat yang (ditimbulkan) dari fitnah (musibah), yaitu meliputi kemurtadan, kematian, kegoncangan, kesusahan, penguasa yang zhalim dan tertutupnya hati, kemudian setelah itu (akan mendapat adzab yang pedih). Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

BANTAHAN TERHADAP HABIB RIZIEQ

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan berbagai macam nikmatnya kepada kita. Shalawat dan salam kita mohonkan kepada Allah agar ditujukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Telah sampai kepada kami ceramah yang disampaikan oleh Habib Rizieq Shihab. Di dalam ceramahnya tersebut, Habib Rizieq mengomentari buku Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas yang berjudul “Mulia dengan Manhaj Salaf”.
Buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” berisi tentang cara/metode beragama yang benar, yaitu bermanhaj dengan manhaj salaf. Ustadz Yazid menjelaskan tentang manhaj salaf dan yang berkaitan dengannya secara gamblang. Beruntunglah orang yang bisa mengambil manfaat.
Di dalam muqaddimah buku ini dikatakan, “Dalam buku ini, penulis akan menjelaskan dengan jelas dan gamblang tentang hujjahnya manhaj para sahabat, yang akan mengantarkan kita kepada cara beragama yang benar, menuju kepada kejayaan umat, dan yang paling penting ialah bahwa kita berpegang dengan manhaj salaf tidak lain tujuan kita ingin masuk surga.
Dalam buku ini, penulis menjelaskan prinsip-prinsip penting manhaj salaf dalam aqidah, manhaj, dakwah, akhlak dan lainnya. Tentang siapakah orang yang paling berhak disebut salafi dan bagaimana cirinya. Penulis juga menyebutkan faedah-faedah dan manfaat yang besar dari berpegang teguh dengan manhaj salaf.1
Bantahan pertama.
Jelaslah bagi kita bahwa buku ini ditulis untuk menjelaskan tentang metode beragama yang benar, yaitu metode salaf atau manhaj salaf. Maka kami katakan: Kelirulah Habib Rizieq yang berkomentar bahwa buku ini dapat memecah belah umat, bahkan sebaliknya buku ini dapat menyatukan umat. Menyatukan kaum muslimin di atas agama yang benar, dan di atas cara beragama yang benar. Buku ini mengajak umat untuk mengamalkan Islam sebagaimana pengamalan Rasulullah dan Sahabat-sahabatnya. Inilah manhaj salaf. Pahamilah hal ini!
Selain itu, di dalam buku ini juga terdapat pembahasan tentang menyatukan kaum muslimin di atas al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman salaf. Ini menunjukkan penulis buku juga memperhatikan persatuan kaum muslimin, dan menginginkan persatuan bagi kaum muslimin.
Ketahuilah Saudara-Saudariku (semoga Allah memberikan kepahaman kepadamu), pada hakikatnya orang-orang sesatlah yang membuat perpecahan. Adapun orang yang bermanhaj salaf, maka bukanlah pemecah belah umat. Kenapa? Karena orang-orang bermanhaj salaf adalah orang yang meneladani pengamalan dan pemahaman agama Rasulullah dan Sahabatnya. Adapun orang-orang sesat membuat pemikiran-pemikiran baru yang menjadikan umat berpecah belah. Oleh sebab itu, umat akan bersatu jika mereka kembali kepada manhaj salaf, yaitu metode beragama Rasulullah dan Sahabatnya. Sebaliknya mereka akan berpecah belah jika melenceng dari manhaj salaf.
Oleh sebab itu Habib Rizieq tidak perlu prihatin dengan terbitnya buku ini, bahkan Habib Rizieq seharusnya berbahagia karena terbitnya buku yang menjelaskan metode beragama yang benar.
Apa yang dimaksud dengan manhaj?
Manhaj menurut bahasa artinya jalan yang jelas dan terang.
Allah Ta’ala berfirman,
áößõáòø ÌóÚóáúäóÇ ãöäúßõãú ÔöÑúÚóÉð æóãöäúåóÇÌðÇ
“…Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang…” (QS. Al-Maa-idah: 48).
Ibnu Abbas berkata menafsirkan, “Maksudnya, jalan dan syari’at.”2
Sedang menurut istilah, manhaj ialah kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan yang digunakan bagi setiap pembelajaran ilmiah, seperti kaidah-kaidah bahasa Arab, ushul aqidah, ushul fiqih, dan ushul tafsir di mana dengan ilmu-ilmu ini pembelajaran dalam Islam beserta pokok-pokoknya menjadi teratur dan benar.3
Manhaj artinya jalan atau metode. Dan manhaj yang benar adalah jalan hidup yang lurus dan terang dalam beragama menurut pemahaman para sahabat Nabi.
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan menjelaskan perbedaan antara aqidah dan manhaj, beliau berkata, “Manhaj lebih umum daripada aqidah. Manhaj diterapkan dalam aqidah, suluk, akhlak, muamalah, dan dalam semua kehidupan seorang muslim. Setiap langkah yang dilakukan seorang muslim dikatakan manhaj. Adapun yang dimaksud dengan aqidah adalah pokok iman, makna dua kalimat syahadat, dan konsekuensinya. Inilah aqidah.”4
Apa yang dimaksud dengan salaf?
Menurut bahasa.
Salaf berasal dari kata salafa-yaslufu-salafan, artinya telah lalu. Kata salaf juga bermakna: seseorang yang telah mendahului (terdahulu) dalam ilmu, iman, keutamaan dan kebaikan.
Ibnu Manzhur mengatakan, “Salaf juga berarti orang yang mendahului Anda, baik dari bapak maupun orang-orang terdekat (kerabat) yang lebih tua umurnya dan lebih utama. Karena itu generasi pertama dari umat ini dari kalangan para Tabi’in disebut sebagai as-Salafush Shalih.”5
Masuk juga dalam pengertian secara bahasa, yaitu sabda Rasulullah kepada anaknya, Fathimah, “Sesungguhnya sebaik-baik salaf (pendahulu) bagimu adalah aku.” (HR. Muslim)6
Menurut istilah.
Adapun menurut istilah, salaf adalah sifat yang khusus dimutlakkan kepada para Sahabat Nabi. Ketika disebutkan Salaf maka yang dimaksud pertama kali adalah para Sahabat. Adapun selain mereka ikut serta dalam makna Salaf ini, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka. Artinya, bila mereka mengikuti para Sahabat maka disebut Salafiyyin, yaitu orang-orang yang mengikuti Salafush Shalih.7
Kami persilahkan para pembaca untuk mempelajari Surat at-Taubah ayat 100. Dalam ayat ini Allah Ta’ala menyebutkan generasi  pertama umat ini yaitu para sahabat dari kalangan muhajirin dan anshar. Mereka adalah orang-orang yang diridhai Allah, dan mereka dijamin masuk surga. Dan orang-orang setelah mereka, yang mengikuti mereka dengan baik dalam aqidah, manhaj dan lainnya, maka mereka pun akan mendapatkan ridha Allah dan akan masuk surga.
Imam al-Ghazali berkata ketika mendefenisikan salaf, “Yang saya maksud adalah madzhab Sahabat dan Tabi’in.”8
Al-Baijuri berkata, “Maksud dari orang-orang terdahulu (salaf) adalah orang-orang terdahulu dari kalangan para Nabi, para Sahabat, Tabi’in, dan para pengikutnya.”9
Yang dimaksud dengan Salaf pertama kali adalah Sahabat karena Rasulullah telah menyebutkan, Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in).” (Muttafaq ‘alaihi).10
Berdasarkan keterangan di atas menjadi jelaslah bahwa kata salaf mutlak ditujukan untuk para sahabat Nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.11
Salaf adalah istilah yang sah. Istilah yang dipakai untuk orang-orang yang menjaga keselamatan aqidah dan manhaj menurut apa yang dilaksanakan Rasululllah dan para sahabatnya sebelum terjadi perselisihan dan perpecahan.12
Makna Salafiyyah
Adapun salafiyyah, maka itu adalah nisbat kepada manhaj salaf, dan ini adalah penisbatan yang baik kepada manhaj yang benar, dan bukan suatu bid’ah dari madzhab yang baru.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H) mengatakan, “Bukanlah merupakan aib bagi orang yang menampakkan madzhab salaf dan menisbatkan diri kepadanya, bahkan wajib menerima yang demikian itu darinya berdasarkan kesepakatan (para ulama) karena madzhab salaf tidak lain kecuali kebenaran.”13
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga mengatakan, “Telah diketahui bahwa karakter ahlul ahwa’ (pengekor hawa nafsu) ialah meninggalkan atau tidak mengikuti salaf.”14
Dari penjabaran makna Salafiyyah, baik dari sisi pengertian maupun penisbatan kepadanya, nampak jelaslah kesalahan para penulis dan pemikir yang menganggap penisbatan diri kepada Salafush Shalih, da’i-da’i yang menyeru kepadanya, bermanhaj dengan manhajnya, dan memperingatkan orang-orang yang menyelisihinya sebagai bagian dari firqah (kelompok) yang banyak meracuni umat Islam. Bahkan mereka menganggap bahwa mengingatkan umat dari manhaj yang menyimpang adalah penyebab perpecahan.15
Bantahan kedua.
Maka kelirulah Habib Rizieq Shihab yang menganggap bahwa mengingatkan umat dari manhaj yang menyimpang adalah penyebab perpecahan. Padahal mengingatkan umat dari manhaj yang menyimpang adalah bentuk nasehat kepada umat. Hal ini dilakukan untuk mengingatkan umat agar tidak terjerumus dalam penyimpangan dan kesalahan. Perhatikanlah hal ini!
Oleh sebab itu, jika telah jelas kesesatan suatu kelompok yang melenceng dari Islam yang benar maka tidak perlu ragu untuk menyatakan kesesatannya.
(Tulisan bersambung, Insya Allah).
Disusun oleh Abu Aslam bin Syahmir Marbawi.
Footnote:
1 Lihat buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas halaman 11-12.
2 Tafsiir Ibnu Katsiir (III/129) tahqiq Sami bin Muhammad as-Salamah, cet. IV Daar Thayyibah, th. 1428 H. Lihat buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas halaman 13.
3 Al-Mukhtasharul Hatsiits fii bayaani Ushuuli Manhajis Salaf Ash-haabil Hadiits halaman 15. Lihat buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” halaman 13.
4 Al-Ajwibah al-Mufiidah ‘an As-ilati Manaahijil Jadiidah (halaman 123). Lihat buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” halaman 13-14.
5 Lisaanul ‘Arab (VI/331). Lihat buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” halaman 14.
6 Shahih: HR. Muslim (no. 2450 [98]). Lihat buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” halaman 15.
7 Lihat buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” halaman 15.
8 Iljamul Awaam ‘An ‘Ilmil Kalaam (halaman 62). HR. Lihat buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” halaman 16.
9 Tuhfatul Muriid Syarah Jauharut Tauhiid (halaman 231). Lihat buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” halaman 16.
10 HR. Al-Bukhari (no. 2652) dan Muslim (2533[212]). Lihat buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” halaman 17.
11 Usus Manhaj Salaf fii Da’wati ilallah (halaman 24). Lihat buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” halaman 18.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KEWAJIBAN BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

KEWAJIBAN BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn

Marilah kita bertakwa kepada Allah. Kita laksanakan kewajiban yang telah diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu berupa hak-hak-Nya dan hak para hamba-Nya. Dan ketahuilah, hak manusia yang paling besar atas diri kalian ialah hak kedua orang tua dan karib kerabat. Allah menyebutkan hak tersebut berada pada tingkatan setelah hak-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وا عبدوا الله ولأ تشر كوا به شيئا وبااولدين احسنا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa … ” [an-Nisâ`/4:36].

Begitu pula Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dalam surat Luqmân/31 ayat 14:

وو صينا الأنسن بو لد يه

“(Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya, …)”

Selanjutnya Allah menyebutkan alasan perintah ini, yaitu:

حملته أمه وهنا على وهن

“(ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah)”.

Yakni keadaan lemah dan berat ketika mengandung, melahirkan, mengasuh dan menyusuinya sebelum kemudian menyapihnya.

Kemudian Allah berfirman:

وفصله فى عا مين أن اشكر لى ولو لد يك الى المصير

“(dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Kulah kembalimu)”.

Nabi telah menjadikan bakti kepada orang tua lebih diutamakan daripada berjihad di jalan Allah. Disebutkan dalam shahîhaian dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd, ia berkata:

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Aku bertanya kepada Nabi; “Amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab,”Shalat pada waktunya.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab,”Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi: ”Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab,”Berjihad di jalan Allah.”

Dikisahkan dalam kitab Shahîh Muslim, bahwa ada seseorang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata: “Aku berbaiat kepadamu untuk berhijrah dan berjihad di jalan Allah. Aku mengharap pahala dari Allah.” Beliau bertanya,”Apakah salah satu dari kedua orang tuamu masih hidup?” Ia menjawab,”Ya, bahkan keduanya masih hidup,” beliau bersabda,”Engkau mencari pahala dari Allah?” Ia menjawab,”Ya.” beliau bersabda,”Pulanglah kepada kedua orang tuamu, kemudian perbaikilah pergaulanmu dengan mereka.”

Disebutkan dalam sebuah hadits dengan sanad jayyid (bagus), ada seseorang berkata kepada Nabi : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin berjihad namun aku tidak mampu melakukannya”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apakah salah satu dari kedua orang tuamu masih ada?” Ia menjawab,”Ya, ibuku,” beliau bersabda: “Temuilah Allah dalam keadaan berbakti kepada kedua orang tuamu. Apabila engkau melakukannya, maka berarti engkau telah berhaji, berumrah dan berjihad”.

Allah Subhanhu wa Ta’ala juga telah berwasiat supaya berbuat baik kepada kedua orang tua di dunia walaupun keduanya kafir. Akan tetapi, apabila keduanya menyuruh untuk berbuat kufur maka sang anak tidak boleh menaati perintah kufur ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.[Luqmân/31:15].

Disebutkan dalam kitab shahîhain, dari Asmâ’ binti Abu Bakar Radhiyallahu ‘anha, ia menceritakan ketika ibunya datang menyambung silaturrahmi dengannya padahal si ibu masih dalam keadaan musyrik.

Asmâ’ Radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُ أُمِّي قَالَ نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ

“Wahai Rasulullah, ibuku datang kepadaku ingin (menyambung hubungan dengan putrinya, Asmâ’), apakah aku boleh menyambung hubungan kembali dengan ibuku”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Ya, sambunglah.”

Cara berbakti kepada kedua orang tua, ialah dengan mencurahkan kebaikan, baik dengan perkataan, perbuatan, ataupun harta.

Berbuat baik dengan perkataan, yaitu kita bertutur kata kepada keduanya dengan lemah lembut, menggunakan kata-kata yang baik dan menunjukan kelembutan serta penghormatan.

Berbuat baik dengan perbuatan, yaitu melayani keduanya dengan tenaga yang mampu kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, membantu dan mempermudah urusan-urusan keduanya. Tentu, tanpa membahayakan agama ataupun dunia kita. Allah Mahamengetahui segala hal yang sekiranya membahayakan. Sehingga kita jangan berpura-pura mengatakan sesuatu itu berbahaya bagi diri kita padahal tidak, sehingga kitapun berbuat durhaka kepada keduanya dalam hal itu.

Berbuat baik dengan harta, yaitu dengan memberikan setiap yang kita miliki untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh keduanya, berbuat baik, berlapang dada dan tidak mengungkit-ungkit pemberian sehingga menyakiti perasaan ibu bapak.

Dan ketahuilah, para jama’ah Jum’at rahimakumullah.

Berbakti kepada kedua orang tua tidak hanya dilakukan tatkala keduanya masih hidup. Namun tetap dilakukan manakala keduanya telah meninggal dunia. Ada sebuah kisah, yaitu seseorang dari Bani Salamah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا

“Wahai Rasulullah, apakah masih ada cara berbakti kepada kedua orang tuaku setelah keduanya meninggal?” Beliau menjawab,”Ya, dengan mendoakannya, memintakan ampun untuknya, melaksanakan janjinya (wasiat), menyambung silaturahmi yang tidak bisa disambung kecuali melalui jalan mereka berdua, dan memuliakan teman-temannya”. [HR Abu Dawud].

Allâhu Akbar! Demikianlah jama’ah Jum’at, betapa luas cakupan berbakti kepada kedua orang tua, bahkan termasuk di dalamnya keharusan memuliakan dan menyambung silaturahmi kepada teman kerabat.

Disebutkan dalam kitab Shahîh Muslim, dari ‘Abdullâh bin ‘Umar bin Khatthâb Radhiyallahu ‘anhu :

“Suatu hari beliau Radhiyallahu ‘anhu berjalan di kota Makkah dengan mengendarai keledai yang biasa beliau Radhiyallahu ‘anhu gunakan bersantai jika bosan mengendarai unta. Lalu di dekat beliau lewatlah seorang Arab Badui. Lantas ‘Abdullah bin ‘Umar pun bertanya kepadanya:”Benarkah engkau Fulan bin Fulan?” Ia menjawab,”Ya,” kemudian ‘Abdullah bin ‘Umar memberikan keledainya kepada orang itu sambil berkata,”Naikilah keledai ini.” Beliau juga memberikan sorban yang mengikat di kepalanya seraya berkata,”Ikatlah kepalamu dengan sorban ini,” maka sebagian sahabatnya berkata,”Semoga Allah mengampunimu. Mengapa engkau memberikan keledai kendaraan santaimu dan sorban ikat kepalamu kepada orang itu?” Maka ‘Ibnu ‘Umar menjawab: ”Orang ini, dahulu adalah teman ‘Umar (bapakku), dan aku pernah mendengar Rasulullah berkata,’Sesungguhnya bakti yang terbaik, ialah tetap menyambung hubungan keluarga ayahnya”.

Pada khutbah pertama, telah kami sampaikan penjelasan mengenai kedudukan berbakti kepada orang tua dan keagungan martabatnya. Adapun balasan berbakti ini ialah pahala yang besar saat di dunia maupun akhirat. Barang siapa yang berbakti kepada orangtuanya, maka kelak anak-anaknya juga akan berbakti kepadanya, serta memberikan jalan keluar dari kesusahannya.

Dalam kitab Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, dari hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu disebutkan tentang kisah tiga orang yang ingin bermalam di gua, lalu merekapun masuk ke dalamnya. Begitu sampai di dalam gua, tiba-tiba sebongkah batu besar jatuh dan menutup mulut gua tersebut.

Merekapun kemudian bertawasul kepada Allah dengan amal-amal shalih yang pernah dikerjakan supaya mereka bisa keluar. Salah seorang dari mereka berkata:

Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai bapak dan ibu yang sudah sangat tua. Aku tidak pernah memberikan susu kepada keluarga maupun budakku sebelum mereka berdua.

Suatu hari, aku pergi jauh untuk mencari pohon dan belum kembali kepada mereka hingga mereka pun tertidur. Akupun memerah susu untuk mereka. Setelah selesai, ternyata aku mendapatkan mereka berdua telah tertidur. Aku tidak ingin membangunkannya dan tidak memberikan susu kepada keluarga maupun untukku sendiri. Aku terus menunggu mereka sambil membawa mangkuk susu di tanganku hingga terbit fajar. Mereka pun bangun dan meminum susu perahanku.

Ya Allah, sekiranya aku melakukan itu semua karena-Mu, maka bukakanlah batu yang telah menutupi kami ini.

Maka batu itupun bergeser sedikit. Kemudian demikian pula yang lainnya berdoa, bertawasul dengan amalan shalih yang pernah mereka kerjakan. Akhirnya, batu itupun bergeser sehingga gua terbuka dan mereka dapat keluar, kemudian kembali melanjutkan perjalanan.

Ketahuilah, berbakti kepada orang tua juga akan mendatangkan keluasan rizki, panjang umur dan khusnul khatimah.

Diriwayatkan dari Sahabat ‘Ali bin Abi Thâlib bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang senang apabila dipanjangkan umurnya, diluaskan rizkinya dan dihindarkan dari sû`ul khatimah, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi.” Dan sesungguhnya, berbakti kepada orang tua merupakan wujud silaturahmi yang paling mulia, karena orang tua memiliki hubungan kekerabatan yang paling dekat dengan kita.

Seorang mukmin yang berakal, sungguh sangat tidak pantas berbuat durhaka dan memutuskan hubungan dengan kedua orang tua, padahal ia mengetahui keutamaan berbakti kepadanya, dan balasannya yang mulia di dunia maupun di akhirat. Larangan ini sangat besar.

Apabila telah mencapai usia lanjut, kedua orang tua akan mengalami kelemahan badan maupun pikiran. Bahkan keduanya bisa mengalami kondisi yang serba menyusahkan, sehingga menyebabkan seseorang mudah menggertak atau bersikap malas untuk melayaninya. Dalam keadaan demikian, Allah melarang setiap anak membentak, meskipun dengan ungkapan yang paling ringan. Tetapi Allah memerintahkan si anak supaya bertutur kata yang baik, merendahkan diri dalam perkataan maupun perbuatan di hadapan keduanya. Sebagaimana sikap seorang pembantu di hadapan majikannya. Demikian pula, Allah memerintahkan si anak supaya mendoakan keduanya, semoga Allah mengasihi keduanya sebagaimana keduanya telah mengasihi dan merawat si anak tatkala masih kecil.

Sang ibu rela berjaga saat malam hari demi menidurkan anaknya. Iapun rela menahan rasa letih supaya si anak bisa beristirahat dengan cukup. Adapun bapaknya, ia berusaha sekuat tenaga mencari nafkah. Letih pikirannya, letih pula badannya. Semua itu, tidak lain ialah untuk memberi makan dan mencukupi kebutuhan si anak. Sehingga sepantasnya bagi si anak untuk berbakti kepada keduanya sebagai balasan atas kebaikannya.

Dalam kitab shahîhain disebutkan dari Abu Hurairah, bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi: “Wahai Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak aku pergauli dengan baik?” Rasulullah menjawab,”Ibumu.” Orang itu bertanya lagi: “Kemudian siapa lagi?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ibumu.” Orang itu mengulangi pertanyaannya: “Kemudian siapa lagi?” Nabi pun kembali mengulangi jawabanya: “Ibumu.” Iapun kemudian mengulangi pertanyaanya untuk yang ke empat kalinya: “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab: “Bapakmu.”

Semoga Allah memberikan taufik-Nya, sehingga memudahkan kita untuk berbakti kepada ibu bapak. Dan semoga Allah memberi karunia kepada kita keikhlasan dalam melaksanakannya. Sesunggunya Dia-lah Dzat yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.

[Diringkas oleh Ustadz Abu Sauda` Eko Mas`uri, dari ad-Dhiyâ-ul Lâmi’, Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn, hlm. 501-504]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 109/Tahun XI/1428H/2008 (Rubrik Khutbah Jum’at). Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mengenal Haid

Definisi Haid

Di dalam buku “Darah Kebiasaan Wanita” yang ditulis oleh Syaikh
Utsaimin, disebutkan mengenai pengertian haid. Menurut bahasa, haid
berarti sesuatu yang mengalir. Dan menurut arti syara’ ialah darah yang
terjadi pada wanita secara alami, bukan karena suatu sebab, dan pada waktu
tertentu. Jadi haid adalah darah normal, bukan disebabkan oleh suatu
penyakit, luka, keguguran atau kelahiran. Oleh karena haid adalah darah normal, maka darah
tersebut berbeda sesuai kondisi, lingkungan dan iklimnya, sehingga terjadi perbedaan yang
nyata pada setiap wanita.
Secara medis, keadaan haid atau menstruasi adalah proses alami yang
dialami setiap wanita, yaitu terjadinya proses pendarahan yang disebabkan
luruhnya dinding rahim sebagai akibat tidak adanya pembuahan. Proses ini
umumnya terjadi pada saat wanita memasuki usia 10-12 tahun. Proses haid
diiringi dengan keadaan keluarnya darah dari kelamin kewanitaan. Dimana
proses alamiah ini terjadi rata-rata sekitar selama 2 hari sampai 8 hari.
Darah yang keluar rata-rata sebanyak antara kisaran 10ml hingga 80ml per hari. Adapun siklus
haid yang normal adalah rata-rata selama 21-35 hari.
Haid Pertanda Memasuki Masa Subur
Haid merupakan pertanda masa reproduktif
pada kehidupan seorang wanita, yang dimulai
dari menarke (mulainya haid) sampai
terjadinya menopause (berhentinya haid). Haid
terjadi pada wanita dewasa yang sehat dan
tidak hamil. Haid adalah perubahan fisiologis
dalam tubuh wanita yang terjadi secara
berkala (tiap bulan) dan dipengaruhi oleh
hormon reproduksi. Periode ini penting dalam
reproduksi.
Haid pada wanita adalah suatu perdarahan
rahim yang sifatnya fisiologik (normal), sebagai
akibat perubahan hormonal yaitu estrogen
dan progesteron. Haid bisa menjadi salah satu
pertanda bahwa seorang wanita sudah
memasuki masa suburnya. Karena secara
fisiologis, haid menandakan telah terbuangnya
sel telur yang sudah matang. Haid merupakan
bagian dari proses mempersiapkan tubuh wanita setiap bulannya untuk kehamilan.
Siklus Haid
Panjang siklus haid ialah jarak tanggal mulainya haid yang lalu dan
mulainya haid berikutnya. Hari pertama terjadinya perdarahan dihitung
sebagai awal setiap siklus haid (hari ke-1), siklus berakhir tepat sebelum
siklus haid berikutnya. Siklus haid berkisar antara 21-40 hari, hanya 10-
15% wanita yang memiliki siklus 28 hari. Tetapi variasinya cukup luas,
bukan saja antara beberapa wanita tetapi juga pada wanita yang sama,
bahkan kakak beradik dan saudara kembar. Jarak antara siklus yang
paling panjang biasanya terjadi sesaat setelah menarke (mulainya haid)
dan sesaat sebelum menopause (berhentinya haid).
Panduan Kesehatan Muslimah
dr. Avie Andriyani
1
Lama haid biasanya antara 3 – 5 hari, ada yang 1 – 2 hari diikuti
darah sedikit-sedikit kemudian ada yang 7 – 8 hari. Jumlah darah
yang keluar rata-rata + 16 cc, pada wanita yang lebih tua darah
yang keluar lebih banyak begitu juga dengan wanita yang anemia.
Pada awalnya, siklus mungkin tidak teratur, jarak antar 2 siklus bisa
berlangsung selama 2 bulan atau dalam 1 bulan mungkin terjadi 2
siklus. Hal ini adalah normal, setelah beberapa lama siklus akan
menjadi lebih teratur. Siklus dan lamanya haid bisa diketahui dengan membuat catatan pada
kalender. Dengan menggunakan kalender tersebut, tandailah siklus haid setiap bulannya.
Setelah beberapa bulan bisa diketahui pola siklus haid, dan hal ini akan membantu dalam
memperkirakan siklus yang akan datang. Tandai setiap hari ke-1 dengan tanda silang, lalu
hitung sampai tanda silang berikutnya dengan demikian dapat diketahui siklus haid.
Setiap bulan, setelah hari ke-5 dari siklus haid, endometrium mulai tumbuh dan menebal
sebagai persiapan terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan. Sekitar hari ke-14, terjadi
pelepasan telur dari ovarium (ovulasi). Sel telur ini masuk ke dalam salah satu tuba falopi dan di
dalam tuba bisa terjadi pembuahan oleh sperma. Jika terjadi pembuahan, sel telur akan masuk
kedalam rahim dan mulai tumbuh menjadi janin.
Pada sekitar hari ke-28, jika tidak terjadi pembuahan maka endometrium akan dilepaskan dan
terjadi perdarahan (hari ke-1 siklus haid). Perdarahan ini berlangsung selama 3 – 5 hari kadang
sampai 7 hari. Proses pertumbuhan dan penebalan endometrium kemudian dimulai lagi pada
siklus berikutnya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

♥) PAKAIAN SYAR’I BAGI WANITA(♥)

Ada beberapa syarat yg harus dipahami Remaja Putri dan Wanita muslimah hendak mengenakan Hijab atau Jilbab syar’i:

PERTAMA,hendaklah menutup seluruh tubuh dan tdk menampakkan anggota tubuh sedikit pun,selain yg dikecualikan.
Karena Allah berfirman:
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka kecuali yg biasa nampak.”(An-Nur:31)

KEDUA,hendaknya hijab tidak menarik perhatian pandangan laki2 bukan mahram.agar hijab tdk memancing pandangan kaum laki2,maka harus memenuhi persyaratan sbg berikut:

1.Hendaknya hijab terbuat dr kain tebal,tdk menampakkan warna kulit tubuh (transparan).

2.Hendaknya hijab tersebut longgar dan tidak menampakkan bentuk anggota tubuh.

3.Hendaknya hijab tersebut tdk berwarna warni dan tidak bermotif.

Hijab bukan merupakan pakaian kebanggan dan kesombongan,karena Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yg mengenakan pakaian kesombongan(kebanggan) di dunia,maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan nanti pada Hari Kiamat kemudian dibakar dg Neraka.”(HR.Abu Dawud dan Ibnu Majah,dan hadits ini hasan)

Hendaknya hijab tersebut tdk diberi parfum atau wewangian berdasarkan hadits dr Abu Musa Al-asy’ari,dia berkata bahwa Rasulullah bersabda:
“siapa pun wanita yg mengenakan wewangian,lalu melewati segolongan orang agar mereka mencium baunya,maka dia adalah wanita pezina.”(HR.Abu Dawud dan An-Nasa’i dan At-Tirmidzi,dan hadits ini hasan)

KETIGA,hendaknya pakaian atau hijab yg dikenakan tdk menyerupai laki2 atau pakaian kaum wanita kafir…
karena Rasulullah bersabda:
sbgmn diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad.
“Barangsiapa yg menyerupai suatu kaum,maka dia termasuk bagian dari mereka.”

sumber: grup facebook indahnya iman

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Cinta Sejati Kepada Sang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa sallam

Cinta Sejati Kepada Sang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Kategori: Manhaj

Hukum Mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Pada suatu hari Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Tidak, demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka berkatalah Umar, “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri!” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [XI/523] no: 6632)

Di lain kesempatan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan, “Demi Allah, salah seorang dari kalian tidak akan dianggap beriman hingga diriku lebih dia cintai dari pada orang tua, anaknya dan seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [I/58] no: 15, dan Muslim dalam Shahih-nya [I/67 no: 69])

Banyak sekali hadits-hadits yang senada dengan dua hadits di atas, yang menekankan wajibnya mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena hal itu merupakan salah satu inti agama, hingga keimanan seseorang tidak dianggap sempurna hingga dia merealisasikan cinta tersebut. Bahkan seorang muslim tidak mencukupkan diri dengan hanya memiliki rasa cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, akan tetapi dia dituntut untuk mengedepankan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -tentunya setelah kecintaan kepada Allah- atas kecintaan dia kepada dirinya sendiri, orang tua, anak dan seluruh manusia.

Potret Kecintaan Para Sahabat Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Bicara masalah cinta Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa diragukan lagi adalah orang terdepan dalam perealisasian kecintaan mereka kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengapa? Sebab cinta dan kasih sayang merupakan buah dari perkenalan, dan para sahabat merupakan orang yang paling mengenal dan paling mengetahui kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak mengherankan jika cinta mereka kepada Beliau jauh lebih besar dan lebih dalam dibandingkan kecintaan orang-orang yang datang sesudah mereka.

Di antara bukti perkataan di atas, adalah suatu kejadian yang terekam dalam sejarah yaitu: Perbincangan yang terjadi antara Abu Sufyan bin Harb -sebelum ia masuk Islam- dengan sahabat Zaid bin ad-Datsinah rodhiallahu ‘anhu ketika beliau tertawan oleh kaum musyrikin lantas dikeluarkan oleh penduduk Mekkah dari tanah haram untuk dibunuh. Abu Sufyan berkata, “Ya Zaid, maukah posisi kamu sekarang digantikan oleh Muhammad dan kami penggal lehernya, kemudian engkau kami bebaskan kembali ke keluargamu?” Serta merta Zaid menimpali, “Demi Allah, aku sama sekali tidak rela jika Muhammad sekarang berada di rumahnya tertusuk sebuah duri, dalam keadaan aku berada di rumahku bersama keluargaku!!!” Maka Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment