Tokoh Pendidikan Perempuan Islam Rahmah el-Yunusiah

Pendahuluan
Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga selalu tercurah pada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, serta keluarga, sahabat, tabi’in dan orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.
Masyarakat bisa baik melalui rumah tangga, sedang rumah tangga adalah tiang masyarakat dan masyarakat adalah tiang Negara. Wanita adalah tiang rumah tangga. Selain Adam alaihis-salam, setiap manusia dilahirkan oleh wanita. oleh sebab itu diharapkan melalui pendidikan setiap wanita menjadi ibu yang baik dalam rumah tangga dan masyarakatnya. Maksud ini bisa dicapai bila kaum wanita mendapat pendidikan khusus dengan system pendidikan tersendiri, karena hukum agama sangat erat sekali sangkut-pautnya dengan seluk-beluk kewanitaan, dan begitu banyak masalah wanita yang tidak mungkin dapat dibicarakan secara terbuka maka dari sinilah ia berkesimpulan bahwa perlu ada perguruan khusus untuk anak-anak wanita.
A. Biografi Rahmah El-Yunusiah
Rahmah el-Yunusiyah, H. Dilahirkan pada tanggal 26 oktober 1900 (1 rajab 1318 H) dipadang panjang, sumatra barat. Ia putri bungsu dari keluarga Syekh M. Yunus dengan Rafi’ah. Ia dilahirkan dari keluarga yang berlatar belakang pendidikan agama yang kuat. Bahkan, bukan saja berpendidikan, keluarganya adalah tokoh-tokoh pendidikan dan masyarakat. Ayahnya, Syekh M. Yunus adalah seorang ulama dan pernah menjabat qadi di Pandai Sikat, Padang Panjang. Sedangkan kakeknya, Imanuddin, seorang ahli ilmu falak dan pemimpin tarekat Naqsabandiyah.
Rahmah El-Yunusiah mempunyai lima orang saudara. Kakaknya yang tertua bernama Zaenuddin Labai El-Yunusi (1890-1924), seorang ulama muda, pendiri Diniyah School (1915) untuk putra dan putri yang memakai system dan pelajaran modern. Dialah yang membuka mata pandangan Rahmah El-Yunusiah. Walaupun ayahnya seorang ulama, Rahmah tidak banyak mendapat pendidikan dari ayahnya karena sewaktu ia masih kanak-kanak ayahnya meninggal dunia. Ia dibesarkan oleh ibu dan kakak-kakaknya yang telah berumah tangga.
Dalam usia 16 tahun, Rahmah dinikahkan dengan seorang ulama muda berpikiran maju bernama H. Baharuddin Lathif. Setelah perkawinannya berlangsung selama enam tahun, atas kehendak kedua belah pihak, terjadilah perceraian tanpa memperoleh anak. Sejak itu ia hanya mencurahkan perhatian dan tenaganya dalam berbagai kegiatan masyarakat.
Ia bukan saja berjuang dan menjadi tokoh pendidikan wanita, tetapi juga menjadi tokoh perjuangan wanita pada masa revolusi fisik. Misalnya, pengorganisasian TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang para anggotanya diambil dari laskar Gygun. Selain itu, Rahmah pun sempat mengorgaisasi pemuda guna menyusun kekuatan gerilnya. Akhirnya, tokoh wanita ini wafat pada 26 Februari 1969 (9 zulhijjah 1388 H) di Padang Panjang.
B. Pendidikan Rahmah El-Yunusiah
Walaupun ayahnya seorang ulama, Rahmah tidak banyak mendapat pendidikan dari ayahnya karena sewaktu ia masih kanak-kanak ayahnya meninggal dunia. Rahmah bersekolah diperguruan Diniyah School pimpinan kakaknya, Zainuddin Labay. Disamping itu, pada sore hari, ia belajar kepada beberapa ulama terkemuka di Padang Panjang. Karena dibesarkan pada keluarga yang banyak berkecimpung dalam bidang pendidikan, sejak semula ia sudah menaruh perhatian terhadap bidang yang sama. Ia sangat kagum pada lembaga pendidikan yang dikelola kakaknya dan, sekaligus tempat belajarnya, Diniyah School.
Disamping pendidikan agama yang pernah diperolehnya, Rahmah juga belajar ilmu kebidanan, ilmu kesehatan dan P3K (Pertolongn Pertama Pada Kecelakaan), dari Dr, Sofyan Rasyad, Dr. Tazar di Kayu Taman, Dr. A. Shaleh di Bukit Tinggi, dan Dr. Arifin di Payakumbuh.

C. Lembaga Pendidikan (Diniyyah Putri) dan perkembangannya
Keyakinan Rahmah akan peranan pendidikan sebagai salah satu jalan yang tepat untuk mengangkat drajat kaum perempuan telah dimilikinya sejak ia masih remaja. Oleh karena itu, Rahmah berkeinginan untuk mendirikan perguruan agama khusus untuk perempuan
Pada hari kamis tanggal 1 November 1923 diresmikan sekolah itu dengan nama AL-Madrasah AL-Diniyyah Li Al-Banat. Untuk menarik perhatian masyarakat terutama kaum ibu, intelektual, dan golongan yang sangat kuat memegang tradisi lama, perguruan yang baru didirikan ini dinamakan pula dengan Diniyyah School Poetri. Ketiga macam yang tidak sama ini, kata Aminuddin Rasyad melambangkan adanya unsur agama, pengetahuan, dan kepribadian bangsa karena diambil dari istilah agama, bahasa Belanda dan kata Indonesia.
Pada permulaan berdirinya perguruan ini, murid-muridnya yang terdaftar adalah 71 orang dan sebagian besar terdiri dari kaum wanita yang sudah berkeluarga. Cara belajar sangat sederhana. Perguruan ini mengambil tempat disalah satu ruangan Masjid Pasar Usang, murid-murid duduk dilantai sambil mengelilingi guru menghadap sebuah meja kecil. Kurikulum yang dipergunakan juga sangat sederhana, yaitu pengetahuan agama dan bahasa arab ditambah dengan pengatahuan umum yang praktis dan menjahit. Guru-gurunya ada empat; Rahmah merangkap sebagai pemimpin, Darwisah, Nasisah, dan Djawena Basyir.
Pada tahun 1924 perguruan ini dipindahkan ketempat yang baru, dengan menyewa rumah bertingkat dua yang berlokasi di Pasar Usang Padang Panjang. Sejak itu perguruan ini dilengkapi dengan bangku, meja, dan papan tulis. Anak-anak yang belum berumah tangga diharuskan tinggal di asramayang disediakan pada tingkat dua.
Karena perhatian masyarakat bertambah besar terhadap perguruan ini dengan banyaknya murid-murid yang datang dari luar Kota Padang Panjang, pada awal tahun 1926 dibangun sebuah gedung yang lengkap dengan asramanya. Akan tetapi, sebelum gedung itu berumur satu tahun, pada tanggal 28 Januari 1926, gempa bumi menimpah Kota Padang Panjang sehingga gedung yang baru itu ikut hancur. Setelah 45 hari gempa, ia bersam majelis guru dan dibantu oleh murid-murid thawalib (100% putra) kembali gotong-royong mendirikan beberapa rumah bambu dengan atap rumbia dan berlantaikan tanah. Rumah bambu ini dijadikan rumah darurat untuk memulai lagi kegiatan perguruannya.
Pada tahun 1927 Rahmah pergi ke Sumatera untuk mengumpulkan dana guna membangun sebuah gedung permanen yang baru. Gedung ini selesai pada tahun berikutnya. Sesuai dengan tingkat kebutuhan, perguruan ini terus-menerus mengalami penyempurnaan, baik fisik, jenis lembaga pendidikan, maupun kurikulum.
D. Kurikulum dan Sistem Pendidikan Diniyyah Putri
Sejak berdirinya, Perguruan Diniyyah Putri selalu mempertahankan system pendidikan tritunggal, yaitu kerja sama yang erat antara lingkungan sekolah, asrama, dan rumah tangga atau masyarakat.
Dengan system pendidikan yang dianut oleh perguruan ini terjalinlah kerja sama yang erat antara ketiga macam system lingkungan untuk mencapai tujuan sesuai dengan yang telah digariskan. Ini berarti bahwa pendidikan yang diberikan secara formal di pagi hari di praktikkan di asrama secara informal dibawah asuhandan bimbingan ibu asrama dan guru-guru pengasuh yang seluruhnya adalah guru-guru wanita. kemudian, semua materi pendidikan yang pernah diterima oleh pelajar selama mereka berada di perguruan ini di praktikkan di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitarnya dibawah pengasuhan orang tuanya.
Lembaga pendidikan di lingkungan Perguruan Diniyyah Putri terdiri dari empat jenis, yaitu:
a. Perguruan Diniyyah Putri Menengah Pertama (DMP) bagian B. Lama pendidikan 4 tahun. Perguruan ini menampung murid-murid tamatan Sekolah Dasar (SD) atau sederajat.
b. Perguruan Diniyyah Putri Menengah Pertama (DMP) bagian C. Lama pendidikan 2 tahun. Dan menerima murid-murid tamatan SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) atau sederajat
c. Kulliyah Al-Muallimat al-Islamiyah (KMI). Lama pendidikan 3 tahun dan menampung murid murid-murid tamatan DMP. Bagian B dan C atau dari Perguruan Agama Tinggi Menengah atau Tsanawiyah.
d. Fakultas Dirosah Islamiyah Perguruan Tinggi Diniyah Putri. Lama pendidikannya 3 tahun untuk mendapatkan ijazah tingkat Sarjana Muda setingkat dengan Fakultas Ushuluddin lain. Status fakultas diakui dengan SK. Mentri Agama No.117 tahun 1969.
E. Tantangan Rahmah dalam Mewujudkan Cita-Citanya
Untuk mewujudkan cita-citanya dalam bidang pendidikan banyak sekali tantangan yang dihadapi Rahmah pada waktu sekolah itu didirikan. Masyarakat yang masih berpegang teguh dengan tradisi lama selalu melancarkan kritik dan cemoohan terhadapnya. Kata-kata seperti “mana pula orang perempuan akan mengajar, akan jadi guru, mengepit-ngepit buku, membuang-buang waktu…akhirnya akan ke dapur juga, lebih baik dari kini ke dapur”, sering dilontarkan kepadanya, tetapi berkat keyakinan yang mantap dan berpegang teguh kepada janji Allah dalam Al-Quran surat Muhammad ayat 7.
         
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
Ia melangkah maju, menghadapi segala tantangan dan rintangan. Ayat diatas selalu ia jadikan pegangan, baik pada masa penjajahan Belanda, Jepang, maupun masa kemerdekaan.
F. Perhatian Luar Negri Terhadap Pola Pendidikan Diniyah Putri
Perhatian luar negri terhadap pola pendidikan Diniyyah Putri, selain dari Malaysia dan Singapura juga Negara-negara Timur Tengah. Pada tahun 1955, Rektor Al-Azhar University, Syekh Abdur Rahman Taj datang mengunjungi Diniyyah Putrid an menyatakan kekagumannya, kemudian Al-Azhar mengundang Rahmah El-Yunusiah untuk berkunjung ke perguruan tinggi tersebut pada tahun 1956. Dalam kunjungan itu, Rahmah mendapat gelar kehormatan agama yang tertinggi yang diberikan dalam rapat senat guru besar Al-Azhar,dengan nama “Syaikhah”. Semenjak itulah, hubungan Diniyyah Putri semakin bertambah kokoh dengan berbagai perguruan tinggi yang ada di Timur Tengah.
G. Kesimpulan
Demikianlah peranan Rahmah El-Yunusiah dengan lembaga pendidikan Diniyyah Putri-nya. Dari uraian tersebut diatas, kita dapat menangkap pikiran-pikiran yang mendasari perjuangannya. Dia memulai dengan beberapa murid wanita dan menjelang akhir hayatnya, berhasul mendirikan pergruan tinggi wanita Islam, sekaligus sebagai sombol wanita Islam diantara para pejuang wanita yang berjuang dalam dunia pendidikan di tanah air kita.
Daftar Pustaka
Rukiati Enung K Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, cet.1 (bandug: pustaka setia, 2006)
IAIN Syarif Hidayatullah Ensklopedi Islam Indonesia,(Penerbit: Jakarta Djambatan)
Ajisman dkk Rahmah El-Yunusiah Tokoh Pembaharu Pendidikan dan Aktivitas Perempuan di Sumatera Barat. pdf

Advertisements

About abusufyanasyirboni

assalamualaikum
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s